Latest Post

Panembahan Senopati

diserat dening aspeknasjateng on Senin, 10 Juni 2013 | 00.01

PUPUH II

S I N O M

01
Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karenak tyasing sesama.

(Contohlah perbuatan yang sangat baik, bagi penduduk di tanah Jawa, dari seorang tokoh besar Mataram, Panembahan Senopati, berusaha dengan kesungguhan hatinya, mengendapkan hawa nafsu, dengan melakukan olah samadi, baik siang dan malam, mewujudkan perasaan senang hatinya bagi sesama insan hidup)

02
Samangsane pesasmuan, mamangun martana martani, sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki, nggayuh geyonganing kayun, kayungyun eninging tyas, sanityasa pinrihatin, puguh panggah cegah dhahar, lawan nendra.

(Saat berada dalam pertemuan, untuk memperbincangkan sesuatu hal dengan kerendahan hati, dan pada setiap kesempatan, di waktu yang luang mengembara untuk bertapa. Dalam mencapai cita-cita sesuai dengan kehendak kalbu, yang sangat didambakan bagi ketentraman hatinya. Dengan senantiasa berprihatin, dan memegang teguh pendiriannya menahan tidak makan dan tidak tidur.)

03
Saben nendra saking wisma, lelana laladan sepi, ngisep sepuhing supana, mrih pana pranaweng kapti, titising tyas marsudi, mardawaning budya tulus, mese reh kasudarman, neng tepining jala nidhi, sruning brata kataman wahyu dyatmika.

(Setiap kali pergi meninggalkan rumah (istana), untuk mengembara di tempat yang sunyi. Dengan tujuan meresapi setiap tingkatan ilmu, agar mengerti dengan sesungguhnya dan memahami akan maknanya, Ketajaman hatinya dimanfaatkan guna menempa jiwa, untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus, Selanjutnya memeras kemampuan (acara untuk mengendalikan pemerintahan, dengan memegang teguh pada satu pedoman) agar mencintai sesama insan. (Pengerahan segenap daya olah semedi) dilakukannya di tepi samudra. Dalam semangat bertapanya, yang akhirnya mendapatkan anugerah Illahi, dan terlahir berkat keluhuran budi)

04
Wikan wengkoning samodra, kederan wus den ideri, kinemat kamot hing driya, rinegan segegem dadi, dumadya angratoni, nenggih Kanjeng Ratu Kidul, ndedel nggayuh nggegana, umara marak maripih, sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda.

(Setelah mengetahui yang terkandung dalam samudra, dengan berjalan mengelilingi sekitarnya, merasakan kesungguhan yang terkandung di dalam hatinya. Untuk dapat digenggam, sehingga berhasil menjadi raja. Tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul keluar menjulang mencapai angkasa, mendekati datang menghadap dan memohon dengan suara halus, karena kalah wibawa dengan tokoh besar dari Mataram)

05
Dahat denira aminta, sinupeket pangkat kanci, jroning alam palimunan,  ing pasaban saben sepi, sumanggem anjanggemi, ing karsa kang wus tinamtu, pamrihe mung aminta, supangate teki-teki, nora ketang teken janggut suku jaja.

((Kanjeng Ratu Kidul) memohon dengan sangat, untuk dapat mempererat hubungan dalam kedudukannya di alam ghaib. Pada saat sedang mengembara di tempat yang sunyi, ia selalu bersedia dan tidak akan ingkar janji, terhadap kehendak (Kanjeng Senopati) yang telah ditentukannya. Yang diharapkannya hanyalah memohon ridho-NYA berkat olah tapanya, meskipun harus bersusah payah membanting tulang.)

06
Prajanjine abipraja, saturun-turun wuri, Mangkono trahing ngawirya, yen amasah mesu budi, dumadya glis dumugi, iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda, nugrahane prapteng mangkin, trah tumerah darahe pada wibawa.

((Kanjeng Ratu Kidul) berjanji dan berikrar, bahwa hingga keturunannya (Kanjeng Panembahan Senopati) kelak dikemudian hari. Demikianlah keturunan bangsawan besar, bila sedang menempa diri untuk mencapai kesempurnaan budi/batin. Tentu akan berhasil dan cepat terkabul, apa saja yang dikehendakinya. Tokoh besar Mataram, anugerahnya masih tampak hingga kini, Turun temurun keturunannya mulia dan berwibawa.)

07
Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji, satriya dibya sumbaga, tan lyan trahing Senapati, pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, enake lan jaman mangkin, sayektine tan bisa ngepleki kuna.

(Yang memerintah di tanah Jawa menjadi raja, para ksatria yang melebihi daripada yang lain. Mereka tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati, yang pantas untuk dijadikan panutan dalam perbuatan baiknya. Disesuaikan dengan kemampuannya, pada keadaan yang akan datang. Sesungguhnya memang tidak akan dapat menyamai keadaan pada masa lalu.)

08
Luwung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin, Nanging ta ing jaman mangkya, pra mudha kang den karemi, manulad nelad Nabi, nayakeng rad Gusti Rasul, anggung ginawe umbag, saben saba mampir masjid, ngajap-ajap mukjijat tibaning drajat.

(Meskipun tidak memuaskan tapi masih lebih baik bila dibandingkan, dengan yang hidupnya tanpa laku prihatin. Namun pada jaman yang akan datang, yang digemari para anak muda, hanya sekedar meniru perbuatan Nabi. Rasulullah (yang ditetapkan oleh Tuhan) sebagai panutan dunia, selalu dijadikan sandaran menyombongkan diri. Setiap singgah ke masjid, mengharapkan mukjizat dapat derajat (kedudukan tinggi).)

09
Anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi, dalil dalaning ijemak, kiyase nora mikani, katungkul mungkul sami, bengkrakan neng masjid agung, kalamun maca kutbah, lelagone dhandhanggendhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran.

(Terus menerus tiada hentinya mendalami masalah syari'at, tanpa mengetahui inti sarinya. Ketentuan yang dijadikan sandaran peraturan di dalam agama Islam. Serta suri tauladan dari masa lampau yang dapat dipergunakan untuk memperkuat suatu hukum, dengan bertingkah laku berlebihan di dalam masjid agung. Bila berkhotbah seperti sedang nembang Dhandhanggula, suaranya berkumandang mengalun dengan cengkok Palaran.)

10
Lamun sira paksa nulad, Tuladhaning Kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah, wateke tak betah kaki, Rehne ta sira Jawi, satitik bae wus cukup, aja ngguru aleman, nelad kas ngepleki pekih, Lamun pungkuh pangangkah yekti karamat.

(Bila engkau memaksakan diri meniru ajaran, yang dilaksanakan Kanjeng Nabi. Oh anakku! Terlalu jauh jangkauan langkahmu, dari dasar kepribadianmu tidak akan tahan uji, nak! Karena engkau adalah orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Janganlah berkeinginan mendapat pujian, lalu meniru perbuatan layaknya orang fakih. Asalkan engkau tekun dalam mengejar cita-citamu pasti akan mendapatkan rahmat pula.)

11
Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip, apa ta suwiteng Nata, tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab, Jawaku bae tan ngenting, parandene pari peksa mulang putra.

(Alangkah baiknya mencari nafkah, karena telah ditakdirkan hidup miskin, lebih baik mengabdi pada raja, untuk bertani atau berdagang. Demikianlah menurut pendapatnya, dan menurut pendapat orang yang sangat bodoh, serta belum mengerti bahasa Arab. Sedangkan pengetahuan tentang bahasa Jawa saja tidak tamat, walaupun demikian tetap memaksakan diri mengajar anak-anaknya.)

12
Saking duk maksih taruna, sadhela wus anglakoni, aberag marang agama, maguru anggering kaji, sawadine tyas mami, banget wedine ing besuk, pranatan ngakir jaman, Tan tutug kaselak ngabdi, nora kober sembahyang gya tininggalan.

(Karena ketika masih muda dulu, walaupun hanya sebentar pernah mengalami perasaan tertarik pada soal agama. Bahkan berguru juga tentang ibadah haji, rahasianya yang menjadi pendorong utama terhadap maksud hati. Sangatlah takut pada ketentuan, yang berlaku pada akhir jaman kelak. Namun belajarnya belum sampai selesai telah terburu mengabdi, bahkan acapkali tidak sempat bersembahyang karena sudah dipanggil majikan.)

13
Marang ingkang asung pangan, yen kasuwen den dukani, abubrah bawur tyas ingwang, lir kiyamat saben hari, bot Allah apa gusti, tambuh-tambuh solah ingsun, lawas-lawas graita, rehne ta suta priyayi, yen mamriha dadi kaum temah nista.

((Menghadap) kepada orang yang memberi nafkah, bila terlalu lama datangnya pasti mendapat marah. Sehingga membuat kacau balau perasaan hati, layaknya kiamat setiap hari. Apakah berat kepada Tuhan atau rajanya. Tingkah perbuatannya menjadi ragu-ragu, lama kelamaan terpikir di dalam hati. Karena terlahir sebagai anak seorang terhormat, bila ingin menjadi penghulu tentulah tidak pantas.)

14
Tuwin ketib suragama, pan ingsun nora winaris, angur baya angantepana, pranatan wajibing urip, lampahan angluluri, aluraning pra luluhur, kuna kumunanira, kongsi tumekeng semangkin, Kikisane tan lyan among ngupa boga.

(Demikian pula untuk menjadi khotib atau juru agama, juga tidak patut karena tidak punya wewenang jabatan tersebut. Lebih baik berpegang teguh, pada ketentuan kewajiban hidup. Menjalankan adat istiadat leluhur, sesuai dengan yang dijalankan oleh para leluhur, sejak jaman dahulu kala hingga kini. Keputusannya tidak lain hanyalah mencari nafkah hidup)

15
Bonggan kang tan mrelokena, mungguh ugering ngaurip, uripe tan tri prakara,  wirya, arta, tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman ngulandara.

(Salahnya sendiri jika tidak memerlukan sesuatu, yang patut menjadi pegangan hidup. Kehidupan yang patut dilengkapi dengan tiga macam syarat, ialah kekuasaan, harta, dan kepandaian. Bila sampai terjadi sama sekali tidak memiliki, salah satu dari tiga syarat tersebut, akhirnya akan menjadi orang yang tidak berguna, dan masih berharga daun jati yang sudah kering. Akhirnya hina papa menjadi pengemis, yang pergi tidak tentu arah tujuannya.)

16
Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing Jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelangut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.

(Yang telah arif bijaksana melaksanakannya, dalam merangkum tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terdapat di alam semesta. Pada akhir inti jiwanya, akan tampak jelas tanpa dihalangi tabir. Maka jiwa pun terbuka dengan jelas, hingga tampak jelas dari jauh seluruh peredaran jaman. Hingga seolah-olah tidak terbatas dan bertepi. Demikianlah yang dapat dikatakan bertapa dengan cara berserah diri secara mutlak ke haribaan kebesaran Tuhan.)

17
Mangkono janma utama, tuman tumanem ing sepi, ing saben rikala mangsa,masah amemasuh budi, lahire den tetepi, ing reh kasatriyanipun, susila anor raga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama.

(Demikianlah insan yang telah mencapai tingkat utama, yang kebiasaannya menyatu di tempat yang sunyi. Serta setiap saat berulangkali mempertajam olah budinya, dan sikap lahiriyahnya tetap berpegang, pada ketentuan jiwa ksatrianya yang rendah hati. Serta tahu benar menyenangkan hati sesama insan, dan sudah tentu dapat dikatakan insan yang serba baik, serta senang sekali pada ajaran agama.)

18
Ing jaman mengko pan ora, arahe para turami, yen antuk tuduh kang nyata, nora pisan den lakoni, banjur njujurken kapti, kakekne arsa winuruk, ngandelken gurunira, pandhitane praja sidik, tur wus manggon pamucunge mring makrifat.

(Pada masa mendatang tidaklah demikian adanya, gejala yang timbul pada kawula mudanya. Bila mendapat petunjuk yang benar, sama sekali tidak mengindahkannya. Selalu menuruti kehendak hatinya sendiri, bahkan kakeknya pun hendak digurui. Dengan mengandalkan gurunya, seorang pandita pejabat kerajaan yang arif bijaksana, serta memahami benar tembang Pucung yang mengarah pada uraian ma'rifat.)

Filsafat Hidup Njawani

diserat dening aspeknasjateng on Jumat, 31 Mei 2013 | 19.11

Berikut adalah petuah - petuah bijak dalam bahasa jawa. Petuah inilah yang diwariskan dari para leluhur kita, dan selalu menjadi pedoman hidup dari waktu ke waktu.

    “Memayu hayuning pribadi; memayu hayuning kulawarga; memayu hayuning sesama; memayu hayuning bawana”. Artinya berbuat baik bagi diri sendiri, keluarga, sesame manusia, makhluk hidup dan seluruh dunia.


    “Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo”. Artinya Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan.


    “Tansah ajeg mesu budi lan raga nganggo cara ngurangi mangan lan turu”. Artinya Kurangi makan dan tidur yang berlebihan agar kesehatan kita senantiasa terjaga
    “Adigang, adigung, adiguno “. Artinya jaga kelakuan, jangan somobong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakangmu


    “Ambeg utomo, andhap asor”. Artinya Selalu menjadi yang utama tapi selalu rendah hati


    “Aja mbedakake marang sapadha-padha”. Artinya Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesame manusia


    “Mohon, mangesthi, mangastuti, marem”. Artinya Selalu meminta petunjuk Tuhan untuk meyelaraskan antara ucapan dan perbuatan agar dapat berguna bagi sesama


    “Ora kena nglarani”. Artinya Jangan melukai orang lain


    “Rela lan legawa lair trusing batin”. Artinya Ikhlas lahir batin


    “Urip kang utama, mateni kang sempurna”. Artinya Selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya


    “Narimo ing pandum”. Artinya Menerima segala rintangan dengan ikhlas


    “Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan”. Artinya Tuhan itu dekat meski kita tubuh kita tidak dapat menyentuhnya dan akal kita dapat menjangkaunya


    “Ala lan becik iku gegandhengan, Kabeh kuwi saka kersaning Pangeran”. Artinya Kebaikan dan kejahatan ada bersama-sama, itu semua adalah kehendak Tuhan


    “Natas, nitis, netes”. Artinya Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali


    “Alam iki sejatining Guru”. Artinya Alam adalah guru yang sejati


    “Golek sampurnaning urip lahir batin lan golek kusumpurnaning pati”. Artinya Kita bertanggung jawab untuk mencari kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat


    “Manungsa mung ngunduh wohing pakarti”. Artinya Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri


Semoga petuah ini dapat menjadikan kita menjadi manusia yang lebih baik di masa depan.amin

PARIBASAN

diserat dening aspeknasjateng on Minggu, 19 Mei 2013 | 09.12

1. Adigang, adigung, adiguna - Ngandelaké kakuwatané, kaluhurané,

PITUTUR LUHUR

Piweling/ ajaran yang utama adalah : Tansah eling marang Pangeran  =  Selalu ingat kepada Tuhan, sebab Gusti ora sare  =  karena Tuhan tidak tidur, artinya : mengetahui segalanya

 Amenangi zaman edan = Mengalami zaman edan/gila 
Ewuh aya ing pambudi = Serba sulit menentukan perilaku
Melu edan nora tahan = Mau ikutan berbuat gila, tak sampai hati
Yen tan melu anglakoni = Kalau tak ikutan
Boya keduman milik = Tidak kebagian rejeki ( uang, harta)
Kaliren wekasanipun = Jadinya kelaparan
Dilalah karsane Allah = Sudah menjadi kehendak Tuhan
Begja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lan waspada = Seberapapun untung  yang didapat oleh orang yang lagi lupa, masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada.

 Wong bener thenger-thenger = Orang benar jadi bengong/ susah, 
Wong salah bungah-bungah, = Orang salah malahan senang - senang hidupnya 
Wong apik ditampik-tampik. = Orang baik ditolak - tolah (bahkan mungkin malah diusir).


  1. Kakehan gludhug kurang udan = Kebanyakan guntur, hujannya sedikit. Artinya kebanyakan ngomong, yang benar sedikit. 
  2. Kegedhen endhas kurang uteg = Kebesaran kepala, otaknya kurang. 
  3. Alihan gung = Lagaknya kaya orang gedhean, padahal bodoh merasa pintar. 
  4. Merak kecancang = Bergaya anggun bak burung merak. 
  5. Malang kadhak = Berjalan  gaya kesana kemari seperti itik.Ini adalah gambaran orang yang mendem drajad, pangkat lan semat. (Orang yang mabuk kekuasaan, kedudukan, pangkat dan kekayaan materi)
  6. Murang  kara adalah orang yang berperilaku tidak baik  seperti koruptor, manipulator, pemeras,yang  menyalah gunakan kedudukan untuk mencari uang yang tidak halal.
  7. Micakake wong melek  = Orang yang tidak malu atas perbuatannya yang tidak baik, dia anggap semua orang itu buta,  tidak tahu akan perbuatannya yang tercela seperti menggerogoti uang negara, memeras dsb.
  8. Mungal - mungil adalah orang yang tak punya pendirian. 
  9. Ngalem legine gulo = Memuji manisnya gula. Dengan menyanjung orang kaya/ berpangkat mengharapkan  diberi sesuatu. 
  10. Ngantuk nemu gethuk = Mengantuk mendapat gethuk (nama makanan dengan bahan dasar singkong). Ini gambaran orang malas, tanpa bekerja dapat  rejeki. 
  11. Anjabung alus = Menipu dengan cara yang halus.  
  12. Keplok ora tombok = Orang yang mencela orang lain dan tidak membantu. 
  13. Ilang jarake, kari jaile = Hilang sudah sifat baik, yang ada hanya iri dan dengki.

  1. Ambondhan tanpo ratu = Tidak menghormati tatanan/peraturan, ulahnya mengacau.
  2. Ngalasake negoro = Negara dianggap hutan, berbuat seenaknya sendiri.
  3. Mampang mumpung = Berbuat semaunya sendiri.
  4. Alesus gumeter = Sengaja menyebarkan berita yang mengacau.
  5. Sawat ambalang kayu = Dinegeri yang tatanannya baru sakit, ada saja peramal yang senangnya mengeluarkan ramalan-ramalan, meski kebanyakan ramalannya tidak benar 
  6. Setan nggowo ting = Setan yang berkeliaran membawa lentera, artinya ada orang yang berkeliaran kesana kesini untuk menghasut dan berbuat jahat. 
  7. Caca upa = Berbuat jahat supaya terjadi permusuhan, lalu menyediakan racunnya – Raja wisuna. 
  8. Bahni maya pramana = Melakukan kampanye busuk ( black campaign) sambil mencerca dan memaki lawannya. 
  9. Arep jamure, emoh watange = Mau jamurnya, tidak mau batangnya, maksudnya: Pemalas, maunya hidup enak ,tetapi tidak mau bekerja keras. 
  10. Gecul kumpul  = Kumpulan para penjahat. 
  11. Hadigang = Munculnya para pemimpin yang merasa kuat. 
  12. Hadigung = Merasa besar dan kuasa. 
  13. Hadiguna = Merasa pandai.

Ngacarani Kenduren Badhe Ngadani Pahargyan

Assalamualaikum wr.wb
( ayat )

Nuwun, Panjenenganipun para sepuh, sesepuh, saha pinisepuh, ingkang dhahat kinurmatan, langkung-langkung panjenenganipun .................................. ingkang dhahat pinundhi, miwah sanggyaning para rawuh para lenggah, sepuh miwah anem, ingkang tansah winantu ing suka rahayu.
Sugeng rawuh, wilujeng sonten/dalu lan sugeng pepanggihan.

Langkung rumiyin, mangga kula panjenengan ngonjukaken raos syukur dhumateng ngarsa dalem Allah SWT, karana sih rohmat lan barokahipun ingkang sampun kaparingaken dhumateng panjenengan sedaya lan kula, sahengga ing menika wekdal kula panjenengan saged makempal wonten menika papan kanthi pinaringan karaharjan tuwin kawilujengan, mboten manggih alangan setunggal menapa. Pramila saking menika sumangga nuwun kula dherekaken sesarengan maos kalimah tahmid “alhamdulillahirobbil’alamin.”
Shalawat lan salam mugi tansah lumintu lumintir dhumateng titah linangkung ingkang dados panutan patuladhan kula panjenengan nenggih Sang Nabi Agung Muhammad SAW ingkang kula panjenengan antu-antu syafa’atipun wonten yaumil qiyamah. Allahumma amin.

Para rawuh para lenggah ingkang dhahat kinurmatan, keparenga kula nggempil kamardhikan panjenengan sawetawis, awit minangkani pamundhutipun Bp/Ibu ................................ sakulawarga, saperlu dados talanging atur ngaturaken wigatosing gati ing kalenggahan menika.

Purwaning atur, Bp/Ibu .............................. sakulawarga ngaturaken sugeng rawuh sinartan agunging panuwun dhumateng panjenengan sedaya, awit sampun sami kepareng ndhanganaken penggalih saha nglonggaraken wekdal saperlu ngrawuhi menapa ingkang dados panyuwunipun. Mugi-mugi rawuh panjenengan sedaya menika dadosa ngamal soleh ingkang pikantuk piwales kesaenan sangking ngarsa dalem Allah SWT kanthi matikel-tikel. Allahumma amin.

Wondene menggah hajat tujuanipun Bp/Ibu ....................... ngrawuhaken panjenengan sedaya ing papan menika, nuwun inggih badhe pun suwuni bantuan arupi ndherek-ndherek dhedhepe wonten ngarsa dalem Allah SWT, dedonga kanthi waosan kalimah toyyibah utawi tahlil, ingkang khasanahipun mugi dadosa donga pamuji, mugi-mugi para arwah ahli kulawarganipun Bp/Ibu ................................... ingkang sampun sumare, nuwun inggih:
1.................................... 2................................... 3....................................... 4...............................
sakpeminggah sakpengandhap mirungganipun, lan sumrambahipun para arwah mukminin-mukminat muslimin muslimat samudayanipun, pikantuka maghfirah saking ngarsa dalem Allah SWT, katampia sedaya amal kesaenanipun, lan pinaringan papan kesaenan saha kanikmatan saking ngarsa dalem Allah SWT satimbang kaliyan darma bekti lan amal kesaenan rikala sugengipun. Allahumma amin.

Kejawi saking menika Bp/Ibu ........................ sakulawarga badhe nyuwun berkah pendonga lan pangestu panjenengan sedaya, awit salah setunggaling putra ing kulawarga menika ingkang peparab/sesilih ............(calon-manten)......... insyaAllah badhe nglampahi sunnah rosul mangun bebrayan ingkang kawastanan nikah, nuwun inggih badhe pikantuk ........(calon-mantu)...... putranipun Bp/Ibu .............................. ingkang pidalem ing .............................. Ingkang saking menika keparenga para rawuh para pilenggah paring puji pendonga lan pangestu mugi-mugi, anggenipun .........(calon-manten)....... sumedya mangun bebrayan ing mangke, tansah manggih kawilujengan, kalis ing rubeda, tan manggih alangan setunggal menapa. Allahumma amin.
Dene minangka imam tahlil badhe kasuwunaken dhumateng panjenenganipun .....................................

Salajengipun, mbokbilih Bp/Ibu ........................... sakulawarga anggenipun nampi rawuh panjenengan sedaya wonten kirang ing tanggap tata akrami, menapadene anggenipun atur papan palenggahan saha pasugatan samangke kirang adamel sukarenaning penggalih panjenengan sedaya, Bp/Ibu ......................... sakulawarga sanget anggenipun nyuwun lumunturing sih samodra pangaksami.

Dene kula pribadhi, mbokbilih anggenipun matur wonten kalepatan, kekirangan, saha kalucutipun, keparenga panjenengan sedaya hangrentahaken sih samodra pangaksami.
Ing wasana, billahittaufiq walhidayah, wassalamua’alaikum wr.wb.

Katur dhumateng panjenenganipun ............................... kula sumanggaaken, nuwun.

sumber

PANATACARA NIKAH

Assalamu'alaikum wr.wb.
( ayat )

Dhumateng panjenenganipun ingkang dhahat kinabekten, para sesepuh, saha pinisepuh ingkang tansah anggung mestuti dhumateng pepoyaning kautamen,
langkung-langkung panjenenganipun Bp ............. ingkang dhahat pinundhi, panjenenganipun ..................... ingkang kula mulyaaken,
panjenenganipun Bp Pengulu Petugas Pencatat Nikah Kecamatan ................. ingkang pantes sinudarsana.
Panjenenganipun para rawuh, para pilenggah, kakung miwah putri ingkang pantes sinuba sagunging pakurmatan,
para kadang wredha-mudha lan tumaruna ingkang mahambeg ing tresna lan asih,
menapadene para pengombyong temanten kakung saking .......... ingkang tansah winantu ing bagya mulya.
Sugeng rawuh, wilujeng dalu, sugeng pepanggihan, lan sugeng lelenggahan.

Langkung rumiyin mangga kula panjenengan ngluhuruken asmanipun Gusti Ingkang Maha Agung, Allah SWT, ngonjukaken raos syukur, karana sih rohmat miwah barokahipun ingkang sampun kaparingaken dhumateng panjenengan sedaya lan kula, sahengga wonten ing menika wekdal kula panjenengan sedaya saged makempal wonten menika papan, kanthi pinaringan kawilujengan tuwin karaharjan, mboten manggih alangan setunggal menapa. Pramila saking menika, sumangga nuwun kula dherekaken sesarengan maos kalimah tahmid, alhamdulillahirobbil'alamin.
Shalawat lan salam mugi tansah lumintu lumintir dhumateng titah linangkung ingkang dados panutan patuladhan kula panjenengan sedaya, inggih Sang Nabi Agung Muhammad SAW ingkang kula panjenengan antu-antu syafangatipun wonten yaumil qiyamah. Allahumma amin.

Para rawuh, para pilenggah ingkang tuhu kinurmatan, kakung sumawana putri.
Langkung rumiyin kula nyuwun agunging pangaksami, awit sampun kumawantun nggempil kamardhikan panjenengan sawetawis.
Ing ngriki kula minangkani talang atur kulawarga, keparenga hangaturaken mukaddimah menggah prastawa gati ing titi kalenggahan menika.

Ingkang sepisan ing ngriki kula minangkani kulawarga, ngaturaken pambagya wilujeng ing sarawuh panjenengan sedaya, kairing agunging panuwun ingkang tanpa upami, dene panjenengan sedaya sampun kepareng minangkani menapa ingkang dados panyuwun Bpk/Ibu ............ sakulawarga. Mugi-mugi rawuh panjenengan menika kalebetna amal soleh ingkang pikantuk piwales sih nugrahaning Gusti ingkang matikel-tikel. Allahumma amin.

Kaping kalihipun, minangkani wakil kulawarga, kula ngaturaken panuwun ingkang tanpa winates dhumateng sedaya paring pambiyantu panjenengan sedaya ingkang awujud menapa kemawon, bau suku, bandha-beya, menapadene iguh lan pratikel, langkung-langkung pambiyantunipun para warga ............. menika, sahengga adicara menika saged kaleksanan.
Ananging saking kulawarga mboten kuwawi matur menapa-menapa, saha mboten waged atur piwales menapa-menapa, namung panggrantesing manah ingkang konjuk dhumateng ngarsaning Allah SWT, mugi tansah paring leliru ingkang satraju dhumateng sih kadarman panjenengan menika wau, dhestun anglangkungana. Allahumma amin.

Sinaosa mekaten, Bpk/Ibu .......... sakulawarga tasih badhe nyuwun ugungan malih, katur panjenengan sedaya mugi keparenga paring paseksen, nuwun inggih ing dalu menika, Nimas ................., badhe pun kaakid-nikahaken kaliyan ................ putra panjenenganipun............. ingkang pidalem ing.............,
Ingkang menika keparenga paring pendonga puja sesanti mulya dhateng  kekalihipun, anggenipun sami sumedya lelumban ing madyaning bebrayan agung, anggenipun membina rumah tangga, mugi-mugi saged jumbuh ingkang ginayuh, sembada ingkang samya sinedya, tansah atut runtut, sayuk rukun, gendhon rukon, samad-sinamadan, wiwit kawitan dumugi delahan tansah manggih bagya mulya, dados kulawarga ingkang sakinah, mawaddah warohmah, tansah pikantuk berkah, pinaringan turun ingkang soleh solihah. Allahumma amin.

Para rawuh para pilenggah ingkang tuhu kinurmatan, Bpk/Ibu ............ sakulawarga sanget anggenipun ngrumaosi bilih minangka jejering titah sawantah ingkang budi dayanipun sanget  kirang sampurna, pramila mbokbilih anggenipun nampi karawuhan panjenengan sedaya, kirang ing trapsila, kirang suba sita, kirang ing tanggap, tangguh, lan gupuh, mugi keparenga diagung ing pangaksama panjenengan sedaya.

Salajengipun, menggah runtuting adicara ing dalu menika, nuwun inggih namung mekaten:
- ingkang sepisan pambuka
- ingkang urut kalih 'acara inti', nuwun inggih adicara akad-nikah ijab qobulipun penganten
- dene ingkang urut tiga, nuwun inggih tambahan lan panutup.

Hadlirin hadlirat ingkang kula mulyaaken, wondene adicara akad-nikah samangke:
- badhe kabikak kanthi waosan wahyu suci Al Qur'an
- kalajengaken sawetawis srah tinampen calon temanten kakung
- lajeng akad-nikah ingkang kapratitisaken panjenganipun Bpk Pengulu.
mekaten menggah rantamaning adicara ing wekdal dalu menika, mugi-mugi saged lancar, rancag, mboten manggih alangan setunggal menapa, wiwit purwa, madya, hengga wusananipun. Allahumma amin.

Ibu-ibu, bapak-bapak, saha sanggyaning para rawuh para lenggah ingkang dhahat kinurmatan. Minangka pambukaning adicara  menika, sumangga nuwun kula dherekaken maos ummul kitab sesarengan.
Liridho-illahi ta'ala walisyafa'ati rosulillah SAW al faatihah.
========
Matur nuwun, mugi-mugi lantaran waosan kalawau adicara menika saged lancar, rancag, mboten manggih alangan setunggal menapa, wiwit purwa, madya, hengga wusananipun. Allahumma amin.

Salajengipun, uruting adicara inti ingkang sepisan, nuwun inggih nyuwun berkah waosan ayat2 suci Al Qur'an dhumateng panjenenganipun Bp/mas/mbak ......... Ingkang menika katur dhumateng panjenenganipun wekdal saha papan kula sumanggaaken.
========
Mekaten menggah Waosan Wahyu Suci Al Qur'an ingkang sampun kawaos dening panjenenganipun ........., mugi-mugi saged nambah santosaning iman kula panjenengan sedaya, saha mbarokahi adicara ing dalu menika, allahumma amin. Dhumateng panjenenganipun .......... kula aturaken agunging panuwun.

Adicara salajengipun, inggih menika Srah Tinampen calon temanten kakung. Ingkang menika, katur dhumateng panjenenganipun Bp ............ minangka duta wacana, wekdal saha papan kula sumanggaaken. Sumangga, nuwun.

====(Pasrah Temanten Kakung)===

Mekaten Atur Pasrah calon temanten kakung ingkang sampun kaaturaken kanthi cetha wijang wijiling pangandikan. Dhumateng panjenenganipun kula aturaken agunging panuwun.
Salajengipun Atur Panampi ingkang badhe kasuwunaken dhumateng panjenenganipun Bp .................. Ingkang menika katur dhumateng panjenenganipun Bp ......... wekdal saha papan kula sumanggaaken. Sumangga, nuwun.

===(Tampi Temanten)===

Mekaten Atur Panampi ingkang sampun kasalirani panjenenganipun Bp ..............., kanthi cetha wijang wijiling pangandikan. Dhumateng panjenenganipun kula aturaken agunging panuwun.

Adicara salajengipun, inggih menika adicara akad-nikah ijab qobulipun penganten, ingkang menika katur dhumateng Bp Pengulu wekdal saha papan kula sumanggaaken.

-====++====-

Para rawuh para pilenggah ingkang kula mulyaaken, mekaten adicara akad-nikah sampun purna, temanten kekalih sampun sah menggahing agami lan negari, mugi-mugi saged dados pasangan ingkang sakinah, mawaddah warohmah, lan tembenipun pinaringan turun ingkang soleh solihah, allahumma amin.
Para rawuh para pilenggah ingkang kula mulyaaken, ing salebeting adicara ingkang bahagia kados menika, raosipun kirang jangkep menawi dereng dipun paringi ular-ular utawi mau'izhah hasanah dening pinisepuh ingkang ngalim, saha pendonganipun para sesepuh ingkang pinundhi. Pramila adicara salajengipun, nyuwun sawetawis mau'izhah hasanah dhumateng panjenganipun Bp Kyai ........... Ingkang menika, katur dhumateng panjenenganipun wekdal saha papan kula sumanggaaken.

-====**====-

Mekaten mau'izhah hasanah saking panjenenganipun Bp Kyai ............. mugi-mugi saged dados sanguning penganten kekalih anggenipun badhe mbina rumah tangga, saha mbarokahi dhumateng kula panjenengan sedaya, allahumma amin. Dhumateng panjenenganipun Bp Kyai .............. kula aturaken agunging panuwun.

Salajengipun, minangka panutup ing adicara dalu menika, badhe nyuwun barokah pendonga dhumateng panjenenganipun ..............
Ananging sakderengipun wekdal kula aturaken, langkung rumiyin wangsul dhateng pribadhi kula, sedaya kalepatan lan kekirangan anggen kula matur lan ndherekaken adicara menika, saha minangkani para kadang kulawarga, sanget anggenipun nyuwun agunging samodra pangaksama panjenengan sedaya.
Dene saparipurnaning donga ing mangke, kasuwun panjenengan sedaya tetep lelenggahan sawetawis rumiyin kanthi mardu mardhikaning penggalih, awit para kadang kulawarga badhe atur pasugatan sawetawis.
Mekaten, kula cekapaken semanten pamatur kula,
Billahittaufiq walhidayah, wassalamu'alaikum wr.wb.
====
Dhumateng panjenenganipun ............ wekdal kula sumanggaaken. Nuwun.

PANATACARA REMBUGAN

Dhumateng ngarsanipun para pepundhen, para pinisepuh saha para sesepuh ingkang pantes pinundhi. Para pangemban pangembating praja satriyaning negari, nun inggih panjenenganipun Bapak Dukuh ……, Bapak Ketua RW ….. menapa dene Bapak Ketua RT…… ingkang tuhu kinabekten. Para Bapak saha Ibu minangka tokoh masyarakat ing tlatah Pedukuhan …… ingkang tansah kula hormati. Mboten kesupen dhumateng para kanca pengurus …………..(nama organisasi) ingkang tansah kaantu-antu kiprahipun ing sak lebeting gesang kemasyarakatan.
Langkung rumiyin keparenga kula ingkang piniji ndherekaken lampahing adicara pepanggihan ing titiwanci punika, nyuwun lumunturing sih samodra pangksami dene kula cumanthaka nggempil kamardikan nyigeg pangandikan panjenengan sedaya, saperlu badhe amurwakani laksitaning adicara ing titiwanci punika.
Anamung sak derengipun, murih ing samangke sageta jumbuh menapa ingkang dados wigatining pepanggiha menika, keparenga badhe kula aturaken menggah urut reroncening adicara ingkang sampun karantam, ingkang ing samangke badhe kapurwakani kanthi adicara ingkang angka sepisan nun inggih Pambuka. Kalajengaken adicara ingkang angka kalih, atur pam bagyaharja saking Ketua …….. Ndungkap adicara ingkang angka tiga, Pangandikan saking Bapak Dukuh……………….. Adicara ingkang angka sekawan, minangka wigatining pepanggihan menika nun inggih Musyawarah, ingkang samangke lampahing adicara musyawarah menika kaaturaken dhateng sedherek Ketua…………… Paripurnaning adicara musyawarah, kalajengaken adicara mirunggan ingkang badhe kaaturaken wontenipun sawetawis atur saking pengurus. Wondene adicara ingkang angka enem minangka pungkasaning adicara, nun inggih adicara Panutup.
Para bapak, para ibu saha para sedehrek sedaya ingkang tansah kinurmatan. Sumangga adicara pepanggihan ing titiwanci punika tumunten kita awiti. Minangka pambuka laksitaning adicara, sumangga kita purwakani kanthi sareng-sareng ndedonga kanthi nenuwun lan nyenyuwun dhumateng ngarsanipun Gusti Allah SWT karana maos lafal Basmalah, kula dhereaken.
Ndungkap adicara ingkang angka kalih, atur pambagyaharja saking Ketua ……………. Ingkang menika dhumateng sedherek Ketua ….kasumanggaaken.

=====(setelah pambagyaharja dari ketua selesai)=====

Mekaten manggah atur pambagyaharja ingkang sampun kaaturaken denening sedherek ……………………. Kalajengaken adicara ingkang angka tiga, Pangandikan saking Bapak Dukuh …………………… Dhumateng Bapak Dukuh …………. wekdal sacekapipun kaaturaken. Sumangga.

=====(setelah Sambutan Dukuh selesai)=====

Kaaturaken agunging panuwun dhumateng panjenenganipun Bapak Dukuh……………….. ingkang sampun kepareng paring pangandikan, ingkang sedaya pangandikan kala wau minangka pambombong lan pambimbing tumrap pengurus saha anggota ………..(nama organisasi) ing tlatah Pedukuhan ………………..
Para Bapak, para ibu saha para sedherek sedaya ingkang kinurmatan, lumebet adicara ingkang angka sekawan, minangka wigatining adicara pepanggihan ing titiwanci menika, inggih adicara Musyawarah. Wondene lampahing adicara musyawarah menika, sawetahipun kula aturaken dhateng sedherek Ketua ………..(nama organisasi). Dhumateng sedherek …….. (nama Ketua)kasumanggaaken.

=====(setelah jalannya musyawarah selesai)=====

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin. Sampun paripurna adicara musyawarah ing titiwanci menika lan saestu sampun pinanggih rembag ingkang gumathok minangka paugeraning pakaryan utawi kegiatan ingkang badhe sareng-sareng kita lampahi ing wekdal ingkang badhe dhateng.
Para lenggah ingkang kinurmatan, ndungkap adicara ingkang angka gangsal, sawetawis atur saking pengurus ingkang badhe kaaturaken dening sedherek sekretaris. Dhumateng sedherek sekretaris, wekdal kasumanggaaken.

=====(setelah sekretaris selesai menyampaikan)=====

Mekaten sawetawis atur saking sedherek sekretaris, mugi ndadosna kawigatosan dhumateng para anggota lan minggahipun dhumateng sedaya para lenggah.
Para Bapak sumrambah para Ibu saha para sedherek sedaya ingkang kinurmatan, titi laksananing adicara pepanggihan ing wekdal punika wiwit purwa, madya dumugi wusananing pepanggihan sampun lumampah kathi wilujeng nir ing sambekala. Minangka panutuping adicara, sumangga adicara ing titiwanci menika kita pungkasi ngiras pantes minangka raos syukur dhumateng ngarsanipun Gusti Allah SWT karana maos lafal Hamdalah, kula dherekaken. ……. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin…

Para lenggah ingkang kinurmatan, ing mbok bilih sak dangunipun kula ndherekaken lampahing adicara, inggih minangka jejering pranatacara kathah atur ingkang kirang nuju prana menapa dena tindak-tanduk kula ingkang kirang mranani, saestu kanthi andhap asoring manah kula nyuwun lumunturing sih samodra pangaksami, nyuwun aguning pangapunten.
Wusana, wassalaamu;alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. jawa lan njawani - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger